CARI BERITA DI BLOG INI

Senin, 19 Agustus 2013

Cina Dinilai Tak Dominan Lagi di Bulu Tangkis

Atlet Bulutangkis Indonesia
KM, Jakarta- Kepala pelatih tunggal putri pemusatan latihan nasional bulu tangkis Indonesia, Liang Chiu Sia, mengatakan peta kekuatan bulu tangkis dunia di nomor putri
sudah merata. Menurut dia, di nomor putri itu Cina sudah tidak terlalu mendominasi di setiap kejuaraan bulu tangkis.

»Skill (keterampilan) pemain terlihat sudah merata,” kata Liang Chiu di Jakarta, Ahad 18 Agustus 2013. Menurut dia, ketika kemampuan pemain relatif sudah merata maka mental bertandinglah yang akan menentukan dalam pertandingan.

Liang mengambil contoh pebulutangkis asal Thailand, Ratchanok Intanon, yang mampu menjadi juara pada Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis di Guangzhou, Cina, pada 11 Agustus lalu. Di final Ratchanok menaklukkan pemain terbaik Cina nomor satu dunia.

Liang Chiu Sia, 63 tahun, yang pernah melatih Susi Susanti dan Mia Audina ini menuturkan, keunggulan utama Ratchanok ada pada keuletannya. »Dia tidak mau kalah dan fighting spirit-nya (semangat bertanding) bagus,” ucap Liang.

Pemain berusia 18 tahun itu, kata Liang, tak kenal menyerah ketika lawan dalam posisi menyerang.

Begitu juga dengan dua tunggal putri India, Saina Nehwal dan P.V Sindhu yang di mata Liang mampu melawan dominasi Cina. ”Mereka fokus dan mampu bermain lepas (tanpa beban),” kata Liang. Mental seperti itulah yang menurut Liang belum dimiliki oleh pemain tunggal putri Indonesia saat ini.

Liang menuturkan, untuk mengejar keunggulan para pemain top dunia, pengurus Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) akan terus meningkatkan kemampuan para penghuni Pelatnas Cipayung. Menambah stamina pemain dan memperbaiki taktik bertanding merupakan salah satu latihan yang akan diberikan kepada Lindaweni Fanetri cs di Pelatnas.

Sementara itu mantan pebulutangkis nasional Susi Susanti mengatakan untuk saat ini Indonesia masih mengandalkan tiga putri yang menempati peringkat teratas di Badminton World Federation. Lindaweni Fanetri kini di peringkat 12, Aprilia Yuswandari di posisi ke-23, dan Belaetrix Manuputy peringkat ke-28.

Susi meminta para pelatih agar meningkatkan kualitas teknik dan fisik ketiga pemain tersebut. Menurut peraih emas olimpiade 1992 Barcelona ini, untuk bisa menyaingi pemain top dunia, pemain Indonesia jangan pernah merasa puas dengan prestasi yang sudah ada. ”Jangan cepat puas, karena yang juara saja masih terus latihan,” ucap dia.

Ke depan, lanjut Susi, pengurus PBSI akan menyeleksi setiap turnamen bagi para pemain. Sebab, Susi menilai, akan percuma bila banyak turnamen yang diikuti tapi Indonesia tidak pernah menang. ”Buang-buang uang juga,” jelasnya.

Pada kesempatan terpisah, Ketua Umum Pengurus Pusat PBSI Gita Wirjawan, menyatakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi di sektor putri. Kendati di ganda putra dan campuran Indonesia sudah berprestasi, para pengurus diminta untuk terus membenahi sektor lainnya. ”Jangan lengah karena masih banyak PR (pekerjaan rumah),” ucap Gita. (www.tempo.co)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Arabic

Kriminal

More on this category »

Olah Raga

More on this category »

1 Follow = Peace

1 Like = 1 Thanks